:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label Assunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Assunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Penyakit dan Obat Pada Lalat
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang dari kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya" (HR. Bukhari, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dalam riwayat lain, “sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai makananmu maka perhatikanlah lalat itu hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhirkan obatnya" (HR. Ahmad, Ibnu Majah)

Diantara mukjizat kenabian Rasulullah SAW dari aspek kedokteran yang harus ditulis dengan tinta emas oleh sejarah kedokteran adalah alat pembuat sakit dan alat pembuat obat pada kedua sayap lalat sudah beliau ungkapkan 14 abad sebelum dunia kedokteran berbicara, dan penyebutan lalat pada hadits itu adalah bahwa air tetap suci dan bersih jika dihinggapi lalat yang membawa bakteri penyebab sakit kemudian kita celupkan lalat tersebut agar sayap pembawa obat (penawarnya) pun tercelup air.

Dan percobaan ilmiah kontemporer pun sudah dilakukan untuk mengungkapkan rahasia di balik hadits ini. Bahwasanya ada kekhususan pada salah satu sayapnya yang sekaligus menjadi penawar atau obat terhadap bakteri yang berada pada sayap lainnya. Oleh karena itu, apabila seekor lalat dicelupkan ke dalam air keseluruhan badannya, maka bakteri yang ada padanya akan mati, dan hal ini cukup untuk menggagalkan “usaha lalat” dalam meracuni manusia, sebagaimana hal ini pun telah juga ditegaskan secara ilmiah. Yaitu bahwa lalat memproduksi zat sejenis enzim yang sangat kecil yang dinamakan Bakteri Yofaj, yaitu tempat tubuhnya bakteri, dan tempat ini menjadi tumbuhnya bakteri pembunuh dan bakteri penyembuh yang ukurannya sekitar 20:25 mili micron. Maka jika seekor lalat mengenai makanan atau minuman, maka harus dicelupkan keseluruhan badan lalat tersebut agar keluar zat penawar bakteri tersebut. Maka pengetahuan ini sudah dikemukakan oleh nabi kita Muhammad SAW dengan gambaran yang menakjubkan bagi siapapun yang menolak hadits tentang lalat tersebut.

Dr. AMin Ridha, Dosen Penyakit Tunggal di Jurusan Kedokteran Universitas Iskandariyah, telah melakukan penelitian tetang “hadits lalat” ini dan menegaskan bahwa di dalam rujukan-rujukan kedokteran masa silam ada penjelasan tentang berbagai penyakit yang disebabkan oleh lalat. Dan di zamana sekarang, para pakar penyakit yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun, baru bisa mengungkapkan rahasia ini, padahal sudah dibongkar informasinya sejak dahulu. Yaitu kurang lebih 30-an tahun yang lalau mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri obat berbagai penyakit yang sudah kronis dan pembusukan yang sudah menahun adalah dengan lalat.

Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa ilmu pengetahuan dalam perkembangannya telah menegaskan penjelasannya dalam teori ilmiah sesuai dengan hadits yang mulai ini dan mukjizat ini sudah dikemukakan semenjak dahulu kala, 14 abad yang silam sebelum para pakar kedokteran mengungkapkan baru-baru ini.

Sumber : islamicmedicine/pkspinang

Kamis, 15 Agustus 2013

Ada satu kondisi sayang sering kali ditemui saat berpuasa, yakni bau mulut. Kondisi yang acapkali dipandang menggangu ini memiliki nama ilmiah Halitosis. Penyebab bau mulut sebenarnya sebagian besar berasal dari rongga mulut itu sendiri karena di dalamnya terdapat sejumlah gigi geligi ,lidah, dan mukosa (selaput lendir) mulut lainnya. Bau mulut juga bisa terjadi karena bekurangnya air liur sehingga timbul napas yang kurang sedap.

Bau mulut ini timbul karena adanya senyawa volatile sulfur compound yang diproduksi oleh bakteri anaerob yang banyak berdiam pada gigi atau mukosa mulut yang rusak, seperti pada gigi geligi yang berlubang, sisa-sisa akar, karang gigi, peradangan gusi, nanah pada gusi atau mukosa mulut lainnya, tambalan yang sudah rusak dan tidak diperbaiki, berkurangnya air liur. Bau mulut juga bisa berakibat seseorang menderita penyakit tertentu,misalnya diabetes mellitus yakni terjadi pengurangan pasokan oksigen ke dalam mulut dan dapat menyebabkan perkembangbiakan kuman anaeron menjadi banyak

Jadi inilah penyebab bau mulut saat berpuasa walaupun tidak ada makanan ataupun minuman yang masuk pada saat tersebut.

Pencegahan
Kondisi bau mulut yang disebabkan kerusakan pada bagian rongga mulut ini akan bertambah buruk pada saat berbuka disebabkan air liur banyak berkurang jumlahnya. Komponen-komponen yang terdapat dalam air liur turut menjaga kesehatan rongga mulut dan secara otomatis dapat mengurangi bau mulut. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan  untuk mengurangi dan mencegah bau mulut pada saat berpuasa.

Agar gigi tetap terjaga kebersihannya, kegiatan menggosok gigi harus tetap dilakukan. Gosoklah gigi minimal sehari dua kali yakni saat setelah sahur dan sebelum tidur di malam hari. Perlu diketahui, selama berpuasa kita juga boleh menggosok gigi. Secara syari’at tidak dilarang. Jadi bila dirasa perlu menggosok gigi di tengah-tengah puasa oleh saja. Jangan lupa untuk menggosok lidah karena lidah terdiri dari papila-papila yang dapat menjadi tempat menempelnya makanan. Papila itu merupakan rumah yang nyaman untuk perkembangbiakan bakteri-bakteri penyebab bau mulut.

Kumur-kumur setiap berwudhu juga membantu mengurangi bau mulut karena air liur menjadi tidak terlalu pekat dan dirangsang peningkatan jumlahnya, tapi berhati-hati untuk tidak tertelan. Perbanyaklah minum air putih saat berbuka puasa serta banyaklah mengkonsumsi buah-buahan yang banayk mengadung air.

Membersihkan karang gigi juga perlu dilakukan. Pembersihan karang gigi ini dapat banyak membantu mengurangi bau mulut karena bakteri anaerob penghasil senyawa yang berbau tidak sedap banyak tinggal di bagian yang banyak karang giginya. Semakin sempit ruang hidup bagi bakteri ersebut, semakin segar napas mulut kita.

Segera tambal gigi geligi yang berlubang juga perbaiki tambalan yang sudah rusak. Mintalah ke dokter gigi anda untuk membuang sisa-sisa akar gigi yang masih ada karena sisa akar juga merupakan tepat yang nyaman untuk ditinggali bakteri anaerob. Bagi pengguna gigi palsu, jangan lupa untuk selalu membersihkannya.

Sebagai tindakan pencegahan, rajinlah memeriksakan diri ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Lalu yang tak kalah penting adalah hindari kebiasaan merokok karena kandungan-kandungan dalam setiap batang rokok dapat memperburuk kondisi kesehatan mulut dan menyebabkan berkurangnya air liur.

Semoga tips ini dapat bermanfaat dan tetap bisa beraktivitas di bulan puasa ini tanpa terganggu dengan bau mulut.



Jumat, 02 Agustus 2013

Kurma adalah buah yang berkah, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka dari puasa Ramadhan. Dari Salman ibn ‘Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air karena air itu bersih dan suci” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Tidak diragukan lagi bahwa dibalik sunnah Nabi ini ada petunjuk medis dan manfaat yang banyak bagi kesehatan, dan hukum yang bagus. Rasulullah SAW telah memilih makanan ini dan tidak memilih yang lainnya karena adanya manfaat yang sangat besar, tidak hanya karena buah itu banyak dijumpai di lingkungannya semata. Ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka, maka organ-organ tubuhnya akan bersiap, dan organ pencernaan mulai beraktivitas kembali, dan memulai mengaktifkan kerjanya kembali dengan halus, dan orang yang sedang berpuasa pada keadaan ini sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air.

Nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula,khususnya makanan yang mengadung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.

Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah Nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) ataupun tamr (kurma matang).

Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86-87% beratnya mengadung :
20-24% air, 
70-75% gula, 
2-3% protein,
8,5% serat, 
Sangat kecil sekali kandunga lemak jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung :
65-70% air berdasarkan berat bersihnya,
24-58% zat gula,
1,2-2% protein,
2,5% serat,
Dan sedikit sekali mengadung lemak jenuh (lecithine)

Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra’Ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut :
1.  Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang di pohon) atau tamr (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia) setiap kali mengawali buka puasa akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah.
2.  Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengadung gula ini secara cepat dan maksimal.
3. Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamr akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah,sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamr dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat.
4.  Sesungguhnya adanya tamr yang mengadung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65-70%) akan menambah terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seseorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka.

( Dr. Hissaan Syamsi Basya)


Sebagaimana kita ketahui meskipun Rasulullah SAW telah dijamin masuk surga, namun beliau adalah orang yang sangat rajin beribadah kepada Allah SWT. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Salah satu ibadah yang beliau lakukan selain ibadah wajib adalah ibadah sunnah, seperti shalat sunnah Tahajud. Beliau selalu bangun sebelum subuh dan melaksanakan shalat malam. Sehingga, asupan yang paling awal masuk ke dalam Tubuh Rasulullah SAW adalah udara segar pada waktu itu.

Mengenai manfaat bangun pagi sebelum subuh, para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk mengoptimalkan metabolisme tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh. Hal ini berbeda dengan kebanyakan orang, dimana pada sepertiga malam masih tidur pulas. Maka, tidak perlu heran ketika kita tidak bangun pada waktu subuh, kita merasa begitu malas untuk beraktivitas.

Siapa saja yang memperhatikan cara tidur dan aktivitas Rasulullah SAW pasti akan mendapatkannya sebagai cara tidur terbaik dan paling bermanfaat untuk tubuh, untuk seluruh organ badan dan stamina. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Beliau bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai batas waktu yang dijinkan oleh Allah SWT. Tubuh berikut organ-organnya dan energi tubuh mendapatkan hak yang pantas untuk tidur dan beristirahat, namun juga cukup berolahraga, disamping penuh dengan pahala. Itu adalah cara paling maslahat bagi hati dan tubuh manusia di dunia dan di akhirat.
Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun juga tidak menahan diri dari tidur secukupnya. Beliau melakukannya dengan cara terbaik. Tidur pada saat diperlukan dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berdzikir kepada Allah SWT hingga matanya terasa berat, tidak dalam keadaan kekenyangan karena makan dan minum, dan tidak langsung bersentuhan dengan tanah dan tidak berbaring diatas kasur yang terlalu tebal. Beliau memiliki kasur kulit berisi sabut. Beliau juga membaringkan kepalanya diatas bantal. Terkadang beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya.

Disini kami akan membuat pasal yang membahas tentang tidur yang bermanfaat dan berbahaya.
Tidur artinya keadaan tubuh yang diikuti aliran panas dan energi yang masuk ke dalam tubuh untuk beristirahat. Tidur ada dua macam, tidur yang alami dan yang tidak alami.
Tidur yang alami adalah saat energi jiwa mencegah segala bentuk aktivitas tubuh, yakni energi indra dan gerakan hati. Kalau energi tersebut sudah menahan gerakan tubuh, saat itulah tubuh menjadi lemah lunglai. Segala bentuk kelembaban dan uap tubuh yang ada pada saat tubuh sedang beraktivitas seluruhnya bercerai-berai mengikuti aktivitasnya, namun saat tidur seluruhnya berkumpul di otak yang merupakan sumber energi, lalu bersembunyi dalam otak dan melemah. Itulah tidur yang alami.
Adapun tidur yang tidak alami adalah yang tidak dialami seseorang karena sakit atau karena suatu kondisi tertentu. Yakni saat kelembaban menguasai otak sedemikian rupa sehingga tidak mampu terjaga atau sadar, atau karena unsue kelembaban dan uap memuncak-seperti saat kekenyangan atau kembung karena banyak minum-sehingga otak menjadi lemah dan berhenti beraktivitas. Saat itu energi menjadi tersembunyi dan energi jiwa juga berhenti beraktivitas. Terjadilah tidur.
Tidur yang paling efisien adalah berbaring ke sebelah kanan agar makanan bisa berada pada posisi yang pas dalam lambung, mengendap secara proporsional.
Tidur yang terburuk adalah terlentang, namun tiduran terlentang tidak menjadi masalah bila sekedar untuk beristirahat sejenak, bukan untuk tidur.
Lebih buruk lagi tidur terlungkup.
Tidur yang standar memberi kesempatan kepada energi alami melakukan aktivitasnya, menentramkan jiwa, memperbanyak sel-sel tubuh, hingga bisa jadi seseorang tertidur demikian nyenyaknya sehingga tidak memberi kesempatan ruh jahat untuk memasukinya.
Diriwayatkan dari Al-Barra bin Azib bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Kalau engkau menuju pembaringan, hendaknya engkau berwudhu seperti wudhu hendak shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kanan, lalu ucapkan : ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berserah diri kepada-Mu, mengarahkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa berharap dan cemas kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan mencari keselamatan melaikan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan, Nabi yang Engkau utus.’ Jadikanlah semua doa itu sebagai akhir ucapanmu. Kalau di malam itu engkau meninggal dunia, engkau meninggal diatas fitrah.” (HR. Bukhari)

Karena orang yang tidur tidak ubahnya seperti orang yang meninggal dunia, sebab tidur adalah saudara kembar kematian, maka mustahil bagi Allah SWT untuk tidur. Oleh karena itu pula para penghuni jannah tidak tidur di dalam surga. Karena orang yang tidur membutuhkan orang yag menjaga dan memelihara dirinya dari segala bencana yang bisa menimpanya. Menjaga badannya dari segala bentuk keburukan yang mungkin mengenainya. Allah SWT sebagai Rabb dan penciptanya, tentu akan selalau mengurusi kebutuhannya. Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengajarkan orang yang hendak tidur untuk mengucapkan beberapa kalimat yang menunjukkan penyerahan diri, permintaan perlindungan diri, rasa berharap dan cemas kepada Allah SWT, yakni demi mendapatkan penjagaan optimal dari Allah SWT dan pemeliharaan terhadap jiwa dan raganya.

Sumber: Ibnu Qayim Al-Jauziyah

[Sehat dengan Metode Pengobatan Nabi SAW]